MAKALAH
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Disusun Oleh :
A R N I A N T
I
BT 12 01 098
III A
AKADEMI KEPERAWATAN BATARI TOJA
WATAMPONE
|
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Demam Berdarah Dengue (DBD)”, yang mana makalah
ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas di Akademi Keperawatan Batari Toja Watampone.
Penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan-kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, waktu, serta
sumber yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah, serta kepada semua
pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga semua amal
baik semua pihak mendapat imbalan yang belipat dari Allah SWT. amiin.
Akhirnya
penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
bagi para pembaca pada umumnya.
Watampone, 02 Agustus 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I..... PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang..................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................. 2
C.
Tujuan Penulisan................................................................... 2
BAB II... PEMBAHASAN
A.
Pengertian............................................................................. 3
B.
Penyebab.............................................................................. 3
C.
Insiden.................................................................................. 4
D.
Patofisiologi......................................................................... 4
E.
Tanda
dan Gejala................................................................. 7
F.
Komplikasi .......................................................................... 8
G.
Test
Diagnostik .................................................................. 8
H.
Pencegahan........................................................................... 10
I.
Penatalaksanaan
Medis........................................................ 10
BAB III.. PENUTUP
A.
Kesimpulan........................................................................... 12
B.
Saran..................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Demam Berdarah
Dengue (DBD) hampir setiap tahun melanda negara kita. Penyakit ini telah
membawa banyak korban jiwa, bahkan jumlah kasus serta korban jiwa meningkat
tiap tahunnya. Karena peningkatan jumlah kasus serta angka kematian, ada yang
mensinyalir kalau virus dengue yang mewabah sekarang adalah virus baru. Demam
Berdarah Dengue atau yang disingkat DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur
gigitan saat menghisap darah manusia.
Merebaknya kasus Demam Berdarah Dengue mengakibatkan
sejumlah Rumah Sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien Demam Berdarah
Dengue. Untuk mengatasinya pihak Rumah Sakit menambah tempat tidur
dilorong-lorong Rumah Sakit. Selain itu masyarakat juga kurang tangkap dengan
gejala-gejala Demam Berdarah Dengue.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014,
Pada tahun 2014 jumlah penderita DBD yang dilaporkan sebanyak 100.347
kasus dengan jumlah kematian sebanyak 907 orang (IR/Angka kesakitan=
39,8 per 100.000 penduduk dan CFR/angka kematian= 0,9%). Dibandingkan tahun
2013 dengan kasus sebanyak 112.511 serta IR 45,85 terjadi penurunan kasus pada
tahun 2014. Target Renstra Kementerian Kesehatan untuk angka kesakitan DBD
tahun 2014 sebesar ≤ 51 per 100.000 penduduk, dengan demikian Indonesia telah
mencapai target Renstra 2014. (Sutarjo US, 2015).
Berdasarkan laporan P2PL Insiden Rate DBD di
Sulawesi Selatan pada tahun 2014 sebesar 35.17 per 100.000 penduduk dengan CFR 0,84%, angka IR
tertinggi adalah Kota Palopo 92,18 per 100.000, Kabupaten Luwu Timur 89,83 per 100.000
pddk, Kabupaten Bantaeng 85,03 per 100.000 penduduk dan terendah di
Kabupaten Selayar 0,00 per 100.000 penduduk, Kabupaten Enrekang IR 6,05
per 100.000 penduduk dan Kabupaten Luwu 8.07 per 100.000 penduduk. Rata-rata angka insiden rate di
Provinsi Sulawesi Selatan cenderung mengalami penurunan bila dibandingkan dengan target Nasional
(36/100.000 penduduk). Hal ini menunjukkan upaya peningkatan pencegahan dan penanggulangan kasus
DBD semakin membaik, namun hal ini masih perlu dukungan berbagai pihak. (Dinkes Sulsel,
2015).
Melihat latar
belakang diatas, maka penulis tertarik menyusun sebuah makalah yang berjudul Demam Berdarah Dengue.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa definisi dan penyebab dari Demam Berdarah Dengue?
2.
Bagaimana insiden Demam Berdarah Dengue?
3.
Bagaimana patofisiologi Demam Berdarah Dengue?
4.
Bagaimana tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue?
5.
Bagaimanakah pencegahan Demam Berdarah Dengue?
6.
Bagaimana penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue?
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui definisi dan penyebab dari Demam
Berdarah Dengue.
2.
Mengetahui insiden Demam Berdarah Dengue.
3.
Mengetahui patofisiologi Demam Berdarah Dengue.
4.
Mengetahui tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue.
5.
Mengetahui pencegahan Demam Berdarah Dengue.
6.
Mengetahui penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue.
|
BAB II
PEMBAHASAN
A
A.
Pengertian
1. Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne
Virus, genus Flavivirus, dan famili Flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk dari
genus Aedes, terutama Aedes aegypti atau Aedes albopictus. (Sutarjo US,
2015)
2. Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau
demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti. Penyakit ini juga
sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah (Nursalam, dkk., 2013)
3. Demam Dengue (Dengue Fever, selanjutnya
disingkat DF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak remaja atau orang
dewasa, dengan tanda – tanda klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang
disertai leucopenia,dengan/ tanpa ruam (rush)
dan limfadenopati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada
pergerakan bola mata, rasa mengecap yang terganggu, trombositopenia ringan dan
bintik – bintik perdarahan (petekie) spontan (Sugianto, S. 2013)
4. Demam berdarah dengue adalah penyakit
demam akut yang disebabkan oleh empat serotype
virus dengue dan
ditandai dengan empat gejala
klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali dan
tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan (Sindrom Renjatan
Dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian
(Taddaga Kasse,. 2016)
B. Penyebab
Demam Berdarah Dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) ditularkan nyamuk Aedes Aegypti yang telah terjangkit
virus Demam Berdarah Dengue. Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh salah satu
dari empat serotype virus yang berbeda antigen. Virus ini adalah kelompok flavirus dan serotype adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3,
DEN-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotype ini akan memberikan kekebalan
terhadap Haemorrhagic Fever dapat
mengalami infeksi 4 kali seumur hidupya (Nursalam, dkk,. 2013)
C.
Insiden
Penyakit Demam Berdarah Dengue telah menyebar secara
luas ke seluruh kawasan dengan jumlah Kabupaten / Kota terjangkit semakin
meningkat hingga ke wilayah pedalaman. Penyakit ini sering muncul sebagaiKLB
sehingga angka kesakitan dan kematian yang terjadi dianggap merupakan gambaran
penyakit di masyarakat. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi
dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemik terjadi setiap lima
tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami
perubahan dengan periode antara 2–5 tahunan. Sedangkan angka kematian
cenderung menurun. (Dinkes Sul-sel, 2015)
D.
Patofisiologi
Patofisiologi primer Demam Berdarah Dengue adalah
peningkatan akut-ermeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke
dalam ruang ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan
tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20 % pada kasus-kasus berat.
Hal ini didukung penemuan post-mortem meliputi efusi serosa, efusi pleura,
hemakonsentrasi dan hipoproteinemi.
Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler,
menunjukkan bahwa perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu
mediator kerja singkat. Jika penderitaan sudah stabil dan mulai sembuh, cairan
ekstra vasasi diabsorpsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit.
Perubahan hemostatis pada Demam Berdarah Dengue
melibatkan 3 faktor yaitu perubahan vaskuler, trombositopeni, dan kelainan
koagulasi. Hampir semua penderita Demam Berdarah Dengue mengalami peningkatan fraguilita vaskuler dan trobositopeni, dan banyak diantaranya
penderita menunjukkan koagologram yang abnormal.
Materi
patologis insufisien telah diambil dari kasus demam dengue yang telah
dikonfirmasi secara virologis untuk kemungkinan gambaran yang luas. Kematian
jarang dengan infeksi chikungunya dan Nile barat; kematian yang dicatat telah
dianggap berasal dari ensefalitis virus, perdarahan atau kejang demam (Nelson,
2013 )
Gambar 2. 2
Dari sudut
patofisiologi, infeksi virus dengue bergerak sesuai alur berikut ini :
Infeksi Virus Dengue![]() |
|||||

Muntah Hepatomegali
Komplemen


Dehidrasi Manifestasi Permeabilitas

Kebocoran
Plasma :
- Hemokensentrasi
- Hipooreteinemia
- Efusi
Pleura
-
Asites
Demam Dengue Hipovolemi Derajat

Meninggal
Demam berdarah dengue derajat I,
II, III – IV
(Sri Rezeki H., 2014)
E.
Tanda dan Gejala
Berdasarkan
kriteria WHO dalam Chen,dkk. (2015), diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini terpenuhi:
1.
Demam
atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2.
Terdapat
minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie,
ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
3.
Trombositopenia
(jumlah trombosit <100.000/ ml).
4.
Terdapat
minimal 1 tanda kebocoran plasma sbb:
a. Peningkatan hematokrit >20%
dibandingkan standar sesuai umur dan jenis kelamin.
b. Penurunan hematokrit >20% setelah
mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
c. Tanda kebocoran plasma seperti: efusi
pleura, asites, hipoproteinemia, hiponatremia.
Menurut WHO, terdapat 4
derajat spektrum klinis DBD yaitu:
1.
Derajat
1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji torniquet.
2.
Derajat
2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain.
3.
Derajat
3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit
dingin dan lembab, tampak gelisah.
4.
Derajat
4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
Menurut Zainuddin (2014 hal : 66) Keluhan yang biasa muncul berupa :
1.
Demam
tinggi, mendadak, terus menerus selama 2 – 7 hari.
2.
Manifestasi
perdarahan, seperti: bintik-bintik merah di kulit, mimisan, gusi berdarah,
muntah berdarah, atau buang air besar berdarah.
3.
Gejala
nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital.
5.
Gejala
gastrointestinal, seperti: mual, muntah, nyeri perut (biasanya di ulu hati atau
di bawah tulang iga)
6.
Kadang
disertai juga dengan gejala lokal, seperti: nyeri menelan, batuk, pilek.
7.
Pada
kondisi syok, anak merasa lemah, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran.
8.
Pada
bayi, demam yang tinggi dapat menimbulkan kejang.
F. Komplikasi
1.
Perdarahan otak
2.
Sindroma distress napas dewasa
3.
Infeksi nosokomial seperti pneumonia, tromboplebitis,
sepsis dan shock sepsis.
G. Test
Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar hemoglobin,
kadar hematokrit, jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya
limfositosis relatif disertai gambaran limfosit plasma biru (sejak hari ke 3).
Trombositopenia umumnya dijumpai pada hari ke 3-8 sejak timbulnya demam.
Hemokonsentrasi dapat mulai dijumpai mulai hari ke 3 demam.
Pada DBD yang disertai manifestasi perdarahan atau
kecurigaan terjadinya gangguan koagulasi, dapat dilakukan pemeriksaan
hemostasis (PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP). Pemeriksaan lain yang
dapat dikerjakan adalah albumin, SGOT/SGPT, ureum/ kreatinin. Untuk membuktikan
etiologi DBD, dapat dilakukan uji diagnostic melalui pemeriksaan isolasi virus,
pemeriksaan serologi atau biologi molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi,
yang dianggap sebagai baku emas adalah metode isolasi virus. Namun, metode ini
membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu yang lama (lebih dari 1–2
minggu), serta biaya yang relatif mahal. Oleh karena keterbatasan ini,
seringkali yang dipilih adalah metode diagnosis molekuler dengan deteksi materi
genetik virus melalui pemeriksaan reverse transcriptionpolymerase chain
reaction (RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR memberikan hasil yang lebih sensitif dan
lebih cepat bila dibandingkan dengan isolasi virus, tapi pemeriksaan ini juga
relatif mahal serta mudah mengalami kontaminasi yang dapat menyebabkan
timbulnya hasil positif semu. Pemeriksaan yang saat ini banyak digunakan adalah
pemeriksaan serologi, yaitu dengan mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue.
Imunoserologi berupa IgM terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu
ke 3 dan menghilang setelah 60-90 hari. Pada infeksi primer, IgG mulai
terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan pada infeksi sekunder dapat terdeteksi
mulai hari ke 2. Salah satu metode pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang
adalah pemeriksaan antigen spesifik virus Dengue, yaitu antigen nonstructural
protein 1 (NS1). Antigen NS1 diekspresikan di permukaan sel yang terinfeksi
virus Dengue. Masih terdapat perbedaan dalam berbagai literatur mengenai berapa
lama antigen NS1 dapat terdeteksi dalam darah. Sebuah kepustakaan mencatat
dengan metode ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari
pertama sampai hari ke 12 demam pada infeksi primer Dengue atau sampai hari ke
5 pada infeksi sekunder Dengue.
Pemeriksaan antigen NS1 dengan metode ELISA juga
dikatakan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%).
Oleh karena berbagai keunggulan tersebut, WHO menyebutkan pemeriksaan deteksi
antigen NS1 sebagai uji dini terbaik untuk pelayanan primer.
Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA tegak dan
lateral dekubitus kanan) dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi
pleura, terutama pada hemitoraks kanan dan pada keadaan perembesan plasma
hebat, efusi dapat ditemukan pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan USG.
H.
Pencegahan
Pencegahan
penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan primer,
pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
1.
Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk
mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat
menjadi sakit. Beberapa hal yang dilakukan dalam pencegahan tingkat ini adalah
surveilans vector, pengendalian vector, surveilans kasus, dan gerakan
pemberatantasan sarang nyamuk.
2.
Pencegahan Sekunder
Pada pencegahan sekunder dapat dilakukan hal-hal sebagai
berikut penemuan, pertolongan dan pelaporan penderita,
diagnosis klinis, diagnosis laboratorium, pengobatan penderita DBD, dan
penyelidikan epidemiologi.
3.
Pencegahan Tersier
Pencegahan tingkat ketiga ini
dimaksudkan untuk mencegah kematian akibat penyakit DBD dan melakukan
rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan transfusi darah dan
stratifikasi daerah rawan DBD.
I.
Penatalaksanaan Medis
Pada
dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan
ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan
memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam
pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan
baik secara klinis maupun laboratoris. Proses kebocoran plasma dan terjadinya
trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam
berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan
akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada
kondisi tersebut secara bertahap dikurangi.
Selain
pemantauan untuk menilai apakah pemberian cairan sudah cukup atau kurang,
pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya
efusi pleura ataupun asites yang masif perlu selalu diwaspadai. Terapi
nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada trombositopenia yang
berat) dan pemberian makanan dengan kandung-an gizi yang cukup, lunak dan tidak
mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna. Sebagai terapi
simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol, serta obat
simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun obat
antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya
perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum). Protokol
pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5
protokol, mengacu pada protokol WHO.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
- Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne
Virus, genus Flavivirus, dan famili Flaviviridae.
- Demam
Berdarah Dengue disebabkan oleh salah satu dari empat serotype virus yang
berbeda antigen. Virus ini
adalah kelompok flavirus dan serotype adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
- Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2–5 tahunan.
- Tanda dan gejala Berdasarkan kriteria WHO dalam Chen,dkk. (2015), diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini terpenuhi: Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie, ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
- Komplikasi Penyakit DBD antara lain :
Perdarahan otak, Sindroma
distress napas dewasa, Infeksi
nosokomial seperti pneumonia, tromboplebitis, sepsis dan shock sepsis
6.
Upaya pencegahan penyakit DBD dapat
dilakukan dengan cara: Pencegahan Primer, Pencegahan Sekunder dan
Pencegahan Tersier.
7. Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat
suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan
cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah
bilamana diperlukan.
B. Saran
1. Setiap
individu sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit DBD tersebut,
sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga
diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserangnya demam berdarah.
2. Perlunya
digalakkan Gerakan 3 M plus,tidak hanya bila terjadi wabah tetapi
harusdijadikan gerakan nasional melalui pendekatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Dinkes Sulsel, 2015. Profil Kesehatan Provinsi
Sulawesi Selatan Tahun 2014. Dinkes Sulsel.
Nelson,
Dkk.2014. Ilmu Kesehatan Anak, Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran, EGC
Nursalam M.,Dkk. 2013. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak.
Jakarta: Salemba Medika.
Sugianto, S. 2013. Demam Berdarah. Erlangga University Press. Surabaya .
Sutarjo US, 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Taddaga,
K. 2016.. Asuhan Keperawatan Anak. Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Zainuddin A.Alfian. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di
Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi Revisi. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI.
|

No comments:
Post a Comment