Thursday, 25 May 2017

MAKALAH DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

MAKALAH

 DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)




akbarLogo akper batari tojaakbar.jpg



Disusun Oleh :


A R N I A N T I
BT 12 01 098
III A









AKADEMI KEPERAWATAN BATARI TOJA
WATAMPONE

 
2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Demam Berdarah Dengue (DBD)”, yang mana makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas di Akademi Keperawatan Batari Toja Watampone.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, waktu, serta sumber yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah, serta kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga semua amal baik semua pihak mendapat imbalan yang belipat dari Allah SWT. amiin.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.


Watampone, 02  Agustus  2016

                                                                                           Penyusun








DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................               i
DAFTAR ISI .............................................................................................               ii
BAB I..... PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang.....................................................................               1
B.       Rumusan Masalah.................................................................               2
C.       Tujuan Penulisan...................................................................               2
BAB II... PEMBAHASAN
A.       Pengertian.............................................................................               3
B.       Penyebab..............................................................................               3
C.       Insiden..................................................................................               4
D.       Patofisiologi.........................................................................               4
E.        Tanda dan Gejala.................................................................               7
F.        Komplikasi ..........................................................................               8
G.       Test  Diagnostik ..................................................................               8
H.       Pencegahan...........................................................................               10
I.          Penatalaksanaan Medis........................................................               10
BAB III.. PENUTUP
A.       Kesimpulan...........................................................................               12
B.       Saran.....................................................................................               13

DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) hampir setiap tahun melanda negara kita. Penyakit ini telah membawa banyak korban jiwa, bahkan jumlah kasus serta korban jiwa meningkat tiap tahunnya. Karena peningkatan jumlah kasus serta angka kematian, ada yang mensinyalir kalau virus dengue yang mewabah sekarang adalah virus baru. Demam Berdarah Dengue atau yang disingkat DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia.
Merebaknya kasus Demam Berdarah Dengue mengakibatkan sejumlah Rumah Sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien Demam Berdarah Dengue. Untuk mengatasinya pihak Rumah Sakit menambah tempat tidur dilorong-lorong Rumah Sakit. Selain itu masyarakat juga kurang tangkap dengan gejala-gejala Demam Berdarah Dengue.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, Pada tahun 2014 jumlah penderita DBD yang dilaporkan sebanyak 100.347 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 907 orang (IR/Angka kesakitan= 39,8 per 100.000 penduduk dan CFR/angka kematian= 0,9%). Dibandingkan tahun 2013 dengan kasus sebanyak 112.511 serta IR 45,85 terjadi penurunan kasus pada tahun 2014. Target Renstra Kementerian Kesehatan untuk angka kesakitan DBD tahun 2014 sebesar ≤ 51 per 100.000 penduduk, dengan demikian Indonesia telah mencapai target Renstra 2014. (Sutarjo US, 2015).
Berdasarkan laporan P2PL Insiden Rate DBD di Sulawesi Selatan pada tahun 2014 sebesar 35.17 per 100.000 penduduk dengan CFR 0,84%, angka IR tertinggi adalah Kota Palopo 92,18 per 100.000, Kabupaten Luwu Timur 89,83 per 100.000 pddk, Kabupaten Bantaeng 85,03 per 100.000 penduduk dan terendah di Kabupaten Selayar 0,00 per 100.000 penduduk, Kabupaten Enrekang IR 6,05 per 100.000 penduduk dan Kabupaten Luwu 8.07 per 100.000 penduduk. Rata-rata angka insiden rate di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung mengalami penurunan bila dibandingkan dengan target Nasional (36/100.000 penduduk). Hal ini menunjukkan upaya peningkatan pencegahan dan penanggulangan kasus DBD semakin membaik, namun hal ini masih perlu dukungan berbagai pihak. (Dinkes Sulsel, 2015).
Melihat latar belakang diatas, maka penulis tertarik menyusun sebuah makalah yang berjudul Demam Berdarah Dengue.

B.       Rumusan Masalah
1.         Apa definisi dan penyebab dari Demam Berdarah Dengue?
2.         Bagaimana insiden Demam Berdarah Dengue?
3.         Bagaimana patofisiologi Demam Berdarah Dengue?
4.         Bagaimana tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue?
5.         Bagaimanakah pencegahan Demam Berdarah Dengue?
6.         Bagaimana penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue?

C.      Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui definisi dan penyebab dari Demam Berdarah Dengue.
2.         Mengetahui insiden Demam Berdarah Dengue.
3.         Mengetahui patofisiologi Demam Berdarah Dengue.
4.         Mengetahui tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue.
5.         Mengetahui pencegahan Demam Berdarah Dengue.
6.         Mengetahui penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue.






 
BAB II
PEMBAHASAN
A       
A.    Pengertian
1.      Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus, dan famili Flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti atau Aedes albopictus. (Sutarjo US, 2015)
2.      Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit ini juga sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah (Nursalam, dkk., 2013)
3.      Demam Dengue (Dengue Fever, selanjutnya disingkat DF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak remaja atau orang dewasa, dengan tanda – tanda klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leucopenia,dengan/ tanpa ruam (rush) dan limfadenopati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakan bola mata, rasa mengecap yang terganggu, trombositopenia ringan dan bintik – bintik perdarahan (petekie) spontan (Sugianto, S. 2013)
4.      Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotype  virus  dengue  dan  ditandai  dengan empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan (Sindrom Renjatan Dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian (Taddaga Kasse,. 2016)

B.     Penyebab
Demam Berdarah Dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) ditularkan nyamuk Aedes Aegypti yang telah terjangkit virus Demam Berdarah Dengue. Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh salah satu dari empat serotype virus yang berbeda antigen. Virus ini adalah kelompok flavirus dan serotype adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotype ini akan memberikan kekebalan terhadap Haemorrhagic Fever dapat mengalami infeksi 4 kali seumur hidupya (Nursalam, dkk,. 2013)

C.    Insiden
Penyakit Demam Berdarah Dengue telah menyebar secara luas ke seluruh kawasan dengan jumlah Kabupaten / Kota terjangkit semakin meningkat hingga ke wilayah pedalaman. Penyakit ini sering muncul sebagaiKLB sehingga angka kesakitan dan kematian yang terjadi dianggap merupakan gambaran penyakit di masyarakat. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2–5 tahunan. Sedangkan angka kematian cenderung menurun. (Dinkes Sul-sel, 2015)

D.    Patofisiologi
Patofisiologi primer Demam Berdarah Dengue adalah peningkatan akut-ermeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20 % pada kasus-kasus berat. Hal ini didukung penemuan post-mortem meliputi efusi serosa, efusi pleura, hemakonsentrasi dan hipoproteinemi.
Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat. Jika penderitaan sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstra vasasi diabsorpsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit.
Perubahan hemostatis pada Demam Berdarah Dengue melibatkan 3 faktor yaitu perubahan vaskuler, trombositopeni, dan kelainan koagulasi. Hampir semua penderita Demam Berdarah Dengue mengalami peningkatan fraguilita vaskuler dan trobositopeni, dan banyak diantaranya penderita menunjukkan koagologram yang abnormal.
     Materi patologis insufisien telah diambil dari kasus demam dengue yang telah dikonfirmasi secara virologis untuk kemungkinan gambaran yang luas. Kematian jarang dengan infeksi chikungunya dan Nile barat; kematian yang dicatat telah dianggap berasal dari ensefalitis virus, perdarahan atau kejang demam (Nelson, 2013 )




Gambar 2. 2
Dari sudut patofisiologi, infeksi virus dengue bergerak sesuai alur berikut ini :
Infeksi Virus Dengue
Demam Anoreksia                                                                                                   Trombositopenia
      Muntah                                                    Hepatomegali
                                                                                                                                    Komplek AgAb
                                                                                                                                    Komplemen
 

Dehidrasi                                 Manifestasi                           Permeabilitas
                                                Perdarahan                           Vaskular naik
 



                                                                                    Kebocoran Plasma :
-    Hemokensentrasi
-    Hipooreteinemia
-    Efusi Pleura
-    Asites
 

Demam Dengue                                  Hipovolemi                Derajat
 


DIC                                                 Syok
 


                                                            Perdarahan
                                                            Saluran Cerna              Anoksia                       Asidosis
 


                                                                                                  Meninggal
 




Demam berdarah dengue derajat I, II, III – IV

(Sri Rezeki H., 2014)


E.     Tanda dan Gejala
Berdasarkan kriteria WHO dalam Chen,dkk. (2015), diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini terpenuhi:
1.        Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2.        Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie, ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
3.        Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
4.        Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sbb:
a.    Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis kelamin.
b.    Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
c.    Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia, hiponatremia.
Menurut WHO, terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD yaitu:
1.        Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet.
2.        Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain.
3.        Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin dan lembab, tampak gelisah.
4.        Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
Menurut Zainuddin (2014 hal : 66) Keluhan yang biasa muncul berupa :
1.        Demam tinggi, mendadak, terus menerus selama 2 – 7 hari.
2.        Manifestasi perdarahan, seperti: bintik-bintik merah di kulit, mimisan, gusi berdarah, muntah berdarah, atau buang air besar berdarah.
3.        Gejala nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital.
5.        Gejala gastrointestinal, seperti: mual, muntah, nyeri perut (biasanya di ulu hati atau di bawah tulang iga)
6.        Kadang disertai juga dengan gejala lokal, seperti: nyeri menelan, batuk, pilek.
7.        Pada kondisi syok, anak merasa lemah, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran.
8.        Pada bayi, demam yang tinggi dapat menimbulkan kejang.

F.     Komplikasi
1.    Perdarahan otak
2.    Sindroma distress napas dewasa
3.    Infeksi nosokomial seperti pneumonia, tromboplebitis, sepsis dan shock sepsis.

G.    Test  Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran limfosit plasma biru (sejak hari ke 3). Trombositopenia umumnya dijumpai pada hari ke 3-8 sejak timbulnya demam. Hemokonsentrasi dapat mulai dijumpai mulai hari ke 3 demam.
Pada DBD yang disertai manifestasi perdarahan atau kecurigaan terjadinya gangguan koagulasi, dapat dilakukan pemeriksaan hemostasis (PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP). Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan adalah albumin, SGOT/SGPT, ureum/ kreatinin. Untuk membuktikan etiologi DBD, dapat dilakukan uji diagnostic melalui pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi atau biologi molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi, yang dianggap sebagai baku emas adalah metode isolasi virus. Namun, metode ini membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu yang lama (lebih dari 1–2 minggu), serta biaya yang relatif mahal. Oleh karena keterbatasan ini, seringkali yang dipilih adalah metode diagnosis molekuler dengan deteksi materi genetik virus melalui pemeriksaan reverse transcriptionpolymerase chain reaction (RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR memberikan hasil yang lebih sensitif dan lebih cepat bila dibandingkan dengan isolasi virus, tapi pemeriksaan ini juga relatif mahal serta mudah mengalami kontaminasi yang dapat menyebabkan timbulnya hasil positif semu. Pemeriksaan yang saat ini banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi, yaitu dengan mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue. Imunoserologi berupa IgM terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3 dan menghilang setelah 60-90 hari. Pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan pada infeksi sekunder dapat terdeteksi mulai hari ke 2. Salah satu metode pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang adalah pemeriksaan antigen spesifik virus Dengue, yaitu antigen nonstructural protein 1 (NS1). Antigen NS1 diekspresikan di permukaan sel yang terinfeksi virus Dengue. Masih terdapat perbedaan dalam berbagai literatur mengenai berapa lama antigen NS1 dapat terdeteksi dalam darah. Sebuah kepustakaan mencatat dengan metode ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari pertama sampai hari ke 12 demam pada infeksi primer Dengue atau sampai hari ke 5 pada infeksi sekunder Dengue.
Pemeriksaan antigen NS1 dengan metode ELISA juga dikatakan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%). Oleh karena berbagai keunggulan tersebut, WHO menyebutkan pemeriksaan deteksi antigen NS1 sebagai uji dini terbaik untuk pelayanan primer.
Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA tegak dan lateral dekubitus kanan) dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat ditemukan pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan USG.




H.    Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
1.    Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Beberapa hal yang dilakukan dalam pencegahan tingkat ini adalah surveilans vector, pengendalian vector, surveilans kasus, dan gerakan pemberatantasan sarang nyamuk.
2.    Pencegahan Sekunder
Pada pencegahan sekunder dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut penemuan, pertolongan dan pelaporan penderita, diagnosis klinis, diagnosis laboratorium, pengobatan penderita DBD, dan penyelidikan epidemiologi.
3.    Pencegahan Tersier
Pencegahan tingkat ketiga ini dimaksudkan untuk mencegah kematian akibat penyakit DBD dan melakukan rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan transfusi darah dan stratifikasi daerah rawan DBD.
I.       Penatalaksanaan Medis
Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris. Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada kondisi tersebut secara bertahap dikurangi.
Selain pemantauan untuk menilai apakah pemberian cairan sudah cukup atau kurang, pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif perlu selalu diwaspadai. Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada trombositopenia yang berat) dan pemberian makanan dengan kandung-an gizi yang cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna. Sebagai terapi simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol, serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum). Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO.
















BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
  1. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus, dan famili Flaviviridae.
  2. Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh salah satu dari empat serotype virus yang berbeda antigen. Virus ini adalah kelompok flavirus dan serotype adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
  3. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2–5 tahunan.
  4. Tanda dan gejala Berdasarkan kriteria WHO dalam Chen,dkk. (2015), diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini terpenuhi: Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie, ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
  5. Komplikasi Penyakit DBD antara lain : Perdarahan otak, Sindroma distress napas dewasa, Infeksi nosokomial seperti pneumonia, tromboplebitis, sepsis dan shock sepsis
6.      Upaya pencegahan penyakit DBD dapat dilakukan dengan cara: Pencegahan Primer,  Pencegahan Sekunder dan Pencegahan Tersier.
7.      Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan.

B.       Saran
1.    Setiap individu sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit DBD tersebut, sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserangnya demam berdarah.
2.    Perlunya digalakkan Gerakan 3 M plus,tidak hanya bila terjadi wabah tetapi harusdijadikan gerakan nasional melalui pendekatan masyarakat.






















DAFTAR PUSTAKA

Dinkes Sulsel, 2015. Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2014. Dinkes Sulsel.

Nelson, Dkk.2014. Ilmu Kesehatan Anak, Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran, EGC

Nursalam M.,Dkk. 2013. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Sugianto, S. 2013. Demam Berdarah. Erlangga University Press. Surabaya.

Sutarjo US, 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

Taddaga, K. 2016.. Asuhan Keperawatan Anak. Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Zainuddin A.Alfian. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi Revisi. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.











 
 

No comments:

Post a Comment

MAKALAHKU

MAKALAH TATANIAGA HASIL PERIKANAN

Tugas Individu MAKALAH TATANIAGA HASIL PERIKANAN Oleh ASRIANI 213095 2006 SEKOLAH TINGGI ILMU P...