Thursday, 25 May 2017

MAKALAH EFUSI PLEURA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu tujuan pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah mewujudkan kesejahteraan rakyat dalam mencapai kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk dengan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan pada umumnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, bidang keperawatan merupakan salah satu komponen dalam pembangunan di bidang kesehatan. Oleh sebab itu perawatan merupakan salah satu usaha penting yang dapat menunjang dalam proses penyembuhan penyakit dan memberi pelayanan khusus secara optimal, khususnya pada kelainan gangguan pernafasan dengan penyakit efusi pleura.
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam rongga pleura yang terletak diantara permukaan viseral dan parietal, Hal ini merupakan proses penyakit primer dan juga merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain, pada gangguan tertentu, cairan dapat berkumpul dalam ruang pleural pada titik dimana penumpukan ini akan menjadi bukti secara klinis, dan hampir selalu merupakan signifikan patologi. Efusi dapat terdiri atas cairan yang secara relatif jernih, yang mungkin merupakan transudat atau eksudat, atau dapat mengandung darah atau purulen. Efusi pleural mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif, tuberculosis, pneumonia, infeksi paru, sindrom nefrotik, penyakit jaringan ikat dan tumor neoplastik.
Masalah keperawatan pada efusi pleura adalah sesak napas, batuk, nyeri dada, demam, menggigil, lemas karena adanya penumpukan cairan dalam rongga pleura. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan secara optimal. Sesuai dengan perkembangan di bidang pulmonologi telah sering dilakukan tindakan torakosentesis untuk mengeluarkan cairan yang ada dalam rongga pleura, yang mana memberikan banyak keuntungan pada pasien-pasien yang mengalami efusi pleura. Namun apabila tidak dilakukan tindakan untuk mengeluarkan cairan tersebut, maka akan menimbulkan edema paru yang mana merupakan masalah yang lebih serius lagi dan dapat berakibat fatal, mengancam jiwa penderita (Brunner dan Suddarth, 2002 halaman 593)

 

B.     Rumusan Masalah
Di dalam makalah ini kami akan membahas tentang beberapa materi yang ada dalam Sistem Perkemihan
1.      Apa definisi batu dari efusi pleura?
2.      Apa saja etiologi dari efusi pleura?
3.      Bagaimana anatomi fisiologi sistem pernapasan?
4.      Bagaimana patofisiologi efusi pleura?
5.      Apa saja prognosis dari efusi pleura?
6.      Apa saja penatalaksanaan bagi efusi pleura?
7.      Bagaimana asuha keperawatan efusi pleura?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa definisi batu efusi pleura.
2.      Untuk mengetahui apa saja etiologi efusi pleura.
3.      Untuk mengetahui bagaimana fisiologi sistem pernapasan.
4.      Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi efusi pleura.
5.      Untuk mengetahui apa saja prognosis dari efusi pleura.
6.      Untuk mengetahui apa saja penatalaksanaan efusi pleura.
7.      Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan efusi pleura.

 


 

 

 

 

 

 



BAB  II

PEMBAHASAN

A.    Definisi
1.      Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak di antara permukaan viseral dan parietal, adalah proses penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. (Smeltzer dan Bare, 2002 halaman 593).
2.      Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura. (Mansjoer, dkk, 2001 halaman 484)
3.      Efusi pleura adalah adanya cairan dirongga pleura, dapat bersifat eksudat dan transudat. Efusi pleura yang transudat disebut hidrotoraks. Hidrotoraks akibat gagal jantung kongestif mungkin merupakan penyebab sering adanya cairan di rongga pleura. (kumar, dkk, 2007 halaman 567)
4.      Efusi pleura adalah Suatu keadaan terdapatnya cairan yang berlebihan di antara kedua lapisan pleura. (Brooker, 2001 halaman 325)

B.     Etiologi
Secara umum penyebab efusi pleura adalah sebagai berikut :
a.         Pleuritis karena bakteri piogenik
b.        Pleuritis tuberkulosa
c.         Efusi pleura karena kelainan intra abdominal, seperti sirosis hati, pankreatitis, abses ginjal, abses hati, dll.
d.        Efusi pleura karena gangguan sirkulasi, seperti pada decompensasi kordis, emboli pulmonal dan hipoalbuminemia.
e.         Efusi pleura karena neoplasma, seperti mesolioma, karsinoma bronkhus, neoplasma metastatik, limfoma malignum.
f.         Efusi pleura karena trauma, yakni trauma tumpul, laserasi, luka tusuk pada dada, ruptur esophagus (Waspadji, 2000 Halaman 931-935).
Adapun penyebab lainnya yaitu :
a.         Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik
b.         Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary, dan perikarditis
c.         Penyakit pada abdomen, seperti pangkreatitis, asites, abses, dan sindrom meigs
d.        Infeksi yang di sebabkan bakteri, virus, jamur, mikrobakterial, dan parasit
e.         Trauma
f.          Lain-lain, seperti lupus eritematosus sistemik, reumatoid artritis, sindrom nefrotik, dan uremia. (Mansjoer, dkk, 2001 halaman 484)

C.    Fisiologi Sistem Pernafasan












Gambar 2.1 Anatomi sistem pernapasan

Proses fisiologis pernapasan di mana oksigen dipindahkan dari udara ke dalama jaringan-jaringan, dan karbon dioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paru-paru. Stadium ke dua, transportasi, yang harus dianggap terdiri dari beberapa aspek: (1) difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dan sel-sel jaringan; (2) distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus; dan (3) reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbon dioksida dengan darah.
1.      Ventilasi
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dinding toraks berfungsi sebagai penghembus. Selama inspirasi, volume toraks bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot yaitu otot sternokleidomastodeus mengangkat sternum ke atas dan otot seratus, skalenus dan interkostalis eksternus mengangkat iga-iga.
2.      Transportasi (Difusi)
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus-kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 µm). Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfer pada permukaan laut besarnya sekitar 149 mmHg (21% dari 760 mmHg). Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai di alveolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekitar 103 mmHg. Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara inspirasi tercampur dengan udara dalam ruang sepi anatomik saluran udara dan dengan uap air. (Price dan Wilson, 2005 hal 737-745).

D.    Patofisiologi
Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong antara pleura tersebut, karena biasanya di sana hanya terdapat sedikit (10-20 cc) cairan yang merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak secara teratur. Cairan yang sedikit ini merupakan pelumas antara kedua pleura, sehingga mereka mudah bergeser satu sama lain. Dalam keadaan patologis rongga
antara kedua pleura ini dapat terisi dengan beberapa liter cairan atau udara.
Diketahui bahwa cairan masuk ke dalam rongga melalui pleura parietal dan selanjutnya keluar lagi dalam jumlah yang sama melalui membran pleura viseralis via sistem limfatik dan vaskuler. Pergerakan cairan dari pleura parietal ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotic. Cairan kebanyakan diabsorbsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorbsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura viseralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesotelial.
 










Gambar 2.2 Efusi pleura.
E.     Prognosis
Prognosis sangat bervariasi dan tergantung pada faktor penyebab dan ciri efusi pleura. Pasien yang mencari pertolongan medis lebih dini karena penyakitnya dan dengan diagnosis yang tepat serta penatalaksanaan yang tepat pula memiliki angka komplikasi yang lebih rendah.

F.     Therapi
a.       Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri, dispnea, dan lain-lain. Cairan efusi sebanyak 1-1,5 liter perlu di keluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.
b.      Antibiotik, jika terdapat empiema
c.       Pleurodesis
d.      Operatif
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispnea. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (misalnya gagal jantung kongestif, pneumonia, dan sirosis). Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan spesimen guna keperluan analisis, dan untuk menghilangkan dispnea. Namun bila penyebab dasar adalah malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini klien diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang di hubungkan ke sistem drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru. (Smeltzer dan Bare, 2002 halaman 594).

G.    Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian
Menurut Doenges, Moorhouse, Geissler, pengkajian keperawatan pada efusi pleura dapat diuraikan sebagai berikut :
a.         Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, dispnea karena aktivitas.
Tanda : Kelesuan
b.         Sirkulasi
Gejala  : Bunyi jantung, gesekan pericardial (menunjukkan efusi)
c.         Integritas ego
Gejala : Perasaan takut.
Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang-ulang.
d.        Eliminasi
Gejala : Diarea yang hilang timbul (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
e.         Makanan/Cairan
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk.
Tanda : Kurus kerempeng/ penampilan kurang bobot
f.          Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri dada, nyeri tulang/ sendi, nyeri abdomen hilang timbul.
g.         Pernafasan
Gejala : Batuk ringan / perubahan pola batuk dari biasanya, nafas pendek
Tanda : Dispnea meningkat dengan kerja
h.         Keamanan
Tanda : Demam mungkin ada, kemerahan, kulit pucat.
i.           Seksualitas
Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik)

j.           Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga (khususnya paru).

Prioritas Keperawatan

1)      Mempertahankan/ memperbaiki fungsi pernafasan
2)      Mengontrol/ menghilangkan nyeri
3)      Mendukung upaya untuk mengatasi diagnosa/situasi
4)      Memberikan informasi tentang proses penyakit/ prognosis dan program pangobatan.

Tujuan pemulangan

a.   Oksigenasi/ventilasi yang adekuat memenuhi kebutuhan aktivitas individu
b.   Nyeri terkontrol
c.   Ansietas/ takut menurun sampai tahap dapat di tangani
d.   Bebas komplikasi yang dapat dicegah
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
b.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura
c.       Nyeri berhubungan dengan adanya insisi bedah
d.      Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3.      Perencanaan
a.       Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan pengangkatan jaringan paru, gangguan suplai oksigen(hipoventilasi), penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehiangan darah). Kemungkinan dibuktikan oleh: dispnea, gelisah/perubahan mental, sianosis.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal, bebas gejala distres pernafasan.

INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1.   Catat frekuensi kedalaman dan kemudahan pernapasan.


2.   Auskultasi untuk gerakan udara



3.   Selidiki kegelisahan dan perubahan mental / tingkat kesadaran.
4.   Ubah posisi dengan sering letakkan pasien pada posisi duduk juga posisi telentang sampai posisi miring.
5.   Hindari pemberian posisi pasien dengan pneumonektomi pada sisi yang dioprasi dengan tetap mempertahankan paru yang sakit


Kolaborasi
6.   Berikan oksigen tambahan melalui nasal kanul, masker parsial, atau masker dengan humidifikasi tinggi sesuai indikasi
7.   Awasi atau buat gambaran GDA, nadi oksimetri. Catat kadar Hb.

8.   Bantu dangan dorong/ penggunaan spirometri insentif atau tiupan botol.

1.    Pernapasan meningkat sebagai  akibat nyeri atau sebagai     mekanisme kompensasi awal  terhadap hilangnya jaringan paru.
2.    Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang normal. pada pasien pneumonektomi. 
3.    Dapat menunjukkan peningkatan hipoksia.

4.    Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.


5.    Posisi ini menurunkan ekspansi paru  dan dan menurunkan perfusi pada paru yang’baik’ dan dapat  memperkuat pengembangan  tagengan terhadap pneumotoraks sekunder.    
6. Memaksimalkan sediaan oksigan,
    khususnya bila ventilasi menurun
    depresi anastesi atau nyeri, juga
    selama periode kompensasi.

7. penurunan PaO2 atau peningkatan
    PaCo2 dapat menunjukkan
    kebutuhan untuk ventilasi.
8. Mencegah/ menurunkan atelektasis   dan meningkatkan ekspansi jalan nafas kecil.


b.    Bersihan jalan  napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan jumlah/viskositas secret.
Kemungkinan dibuktikan oleh : perubahan frekuensi/ kedalaman pernafasan.
            Hasil yang diharapkan : Menunjukkan potensi jalan napas dengan cairan
                                        secret mudah dikeluarkan.
INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1.   Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas dan adanya sekret.
2.   Observasi jumlah dan karakter sputum.

3.   Dorong masukan cairan peroral dalam toleransi jantung.
4.   Kaji nyeri/ ketidaknyamanan dan obati dengan dosis rutin dan lakukan latihan pernafasan.


Kolaborasi
5.   Gunakan oksigen, Berikan cairan tambahan melalui  IV.
6.   Berikan bronkodilator, ekspektoran
   dan analgesik sesuai indikasi.
7. Berikan/ bantu dengan IPPB,
    Spirometri insentif.

1. Pernafasan bising menunjukkan
     adanya sekret.
2. Meningkatkan jumlah secret tak
     Berwarna sesuai kemajuan 
     penyembuhan.
3.  Hidrasi     adekuat     untuk 
     Mempertahankan secret hilang.
4. Mendorong pasien untuk nafas lebih dalam untuk mencegah kegagalan pernafasan.



5.    Memberikan hidrasi maksimal untuk peningkatan pengeluaran
6.    Mengh ilangkan spasme brongkus.
7.     Memperbaiki ekspansi paru/ventilasi.

c.    Nyeri berhubungan dengan insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal, adanya selang dada, invasi kanker kepleura.
Kemungkinan dibuktikan oleh : laporan verbal ketidaknyamanan, berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi misalnya gelisah, perubahan pada TD, frekuensi jantung/ pernafasan.
Hasil yang di harapkan : Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol, tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik, berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.
INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1.    Kaji pernyataan verbal dan non verbal nyeri klien.

2.    Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisiologi dan fsikologi.




3.    Berikan tindakan kenyamanan misalnya sering ubah posisi, pijatan punggung, sokongan bantal.


4.    Bantu aktivitas perawatan diri, pernafasan latihan tangan dan ambulasi.


5.    Tanyakan pasien tentang nyeri, temukan karakteristik nyeri mis. Terus menerus, sakit, menusuk, terbakar.
6.    Dorong menyatakan perasaan    tentang nyeri.


7.    Jadwalkan periode istirahat, berikan    lingkungan tenang.


8.    Evaluasi keefektifan pemberin obat. Dorong pemakaian obat dengan benar, untuk mengontrol nyeri.
Kolaborasi
9.    Berikan analgetik rutin sesuai indikasi, khususnya 45-60 menit sebelum tindakan napas dalam/ latihan batuk.

1.      Ketidak sesuaian petunjuk verbal   dan memberikan petunjuk derajat nyeri.
2.      Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk klien dari pada  insisi anterolateral. Adanya selang dada dapat meningkatkan lebih besar ketidaknyamanan.
3.      Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian. Menghilangkan Ketidaknyamanan. Mencegah kelemahan yang tak perlu dan regangan insisi.  
4.      Mendorong dan membantu fisik mungkin diperlukan untuk beberapa waktu sebelum pasien mampu atau cukup percaya.
5.      Membantu dalam evaluasi gejala        nyeri, yang dapat melibatkan visera saraf, dan jaringan tulang.
6.      Takut/ masalah dapat meningkatkan tekanan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.
7.      Penurunan kelemahan dan penghemat energi, meningkatkan kemampuan koping.
8.      Persepsi nyeri dan hilangnya nyeri adalah subjektif dan pengontrolan nyeri yang terbaik merupakan keleluasaan pasien.
9.      Mempertahankan kadar obat  lebih konstan menghindari puncak periode nyeri.

d.   Ansietas berhubungan krisis situasi, ancaman atau perubahan status kesehatan, adanya ancaman kematian. Kemungkinan dibuktikan oleh menolak, ketakutan, marah, peningkatan nyeri rangsangan simpatis, ekspresi menyangkal.
Hasil yang diharapkan : Mengakui dan mendiskusikan masalah, menunjukkan  rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks atau istirahat, menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.  
INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
1.     Kaji tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnose.

2.   Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur.

3.   Akui rasa takut atau masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan.

4.   Catat komentar / perilaku yang menunjukkan menerima dan/
menggunakan strategi efektif menerima situasi.

5.   Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan.
6.   Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.



7.   Berikan kenyamanan fisik pasien

1. Klien dan orang terdekat
    mendengar dan mengasimilasi
    informasi baru yang meliputi
    perubahan dan pola hidup.
2. Membuat kepercayaan dan
    menurunkan kesalahan persepsi
    terhadap informasi.
3. Dukungan  memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan pengobatannya.
4. Takut/cemas klien mulai
     menerima secara positif dengan  
    kenyataan. 

5. Dapat membantu memperbaiki    beberapa perasaan.
6. Bila penyangkalan eksterm atau ansietas mempengaruhi kemajuan penyembuhan, menghadapi isu pasien perlu dijelaskan.
7. ini sulit untuk menerima dengan isu emosi.

4.      Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan dalam proses keperawatan dan sangat menuntut kemampuan intelektual, keterampilan dan tehnik keperawatan.
Pelaksanaan keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan yang didasari kebutuhan klien untuk mengurangi atau mencegah masalah serta merupakan pengelolaan atau perwujudan rencana keperawatan pada seorang klien.
Ada 2 syarat hasil yang diharapkan dalam pelaksanaan perawatan   yaitu :
a.       Adanya bukti bahwa klien dalam proses menuju perawatan atau telah tercapai tujuan yang diinginkan.
b.      Adanya bukti bahwa tindakan keperawatan dapat diterima klien.
Proses pelaksanaan perawatan yaitu :
a.       Merencanakan perawatan, segala informasi yang tercakup dalam rencana keperawatan, merupakan dasar atau pedoman dalam tindakan.
b.      Mengidentifikasi reaksi klien, dituntut usaha yang tidak tergesa-gesa dan teliti agar dapat menemukan reaksi klien sebagai akibat tindakan keperawatan
5.      Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian keberhasilan rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien.
Hasil yang diharapkan dalam evaluasi diagnosa keperawatan pada efusi pleura meliputi :
a.        Pola pernafasan, tak efektif  meliputi :
Menunjukkan pola pernafasan normal/efektif dengan GDA dalam rentang normal.
Bebas sianosis dan tanda.gejala hipoksia.
b.       Trauma/penghentian napas, resiko tinggi terhadap, meliputi :
Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi.
Pemberi perawatan akan ; memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik.
c.        Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan pengobatan meliputi :
Menyatakan pemahaman penyebab masalah (bila tahu)
Mengidentifikasi tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik.
Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah.

BAB  III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Efusi pleura merupakan pengumpulan cairan dalam spasium pleural yang terletak di antara permukaan viseral dan parietal. Efusi pleura adalah proses penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain.   Efusi pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif, tuberkulosis, pneumoniainfeksi paru (terutama virus), sindrom nefrotik, penyakit jaringan ikat, dan tumor neoplasik. Karsinoma bronkogenik adalah malignasi yang paling umum berkaitan dengan efusi pleura.  Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak napas.

B.     Saran
Dengan di susunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan memahami apa yang telah tertulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa menambah pengetahuan pembaca. Di sampin itu ami juga mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca sehingga kami  bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.











DAFTAR PUSTAKA



Brunner dan Suddarth, (2002), Keperawatan Medikal Bedah, Volume 1, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Doenges E. Marilynn et al, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Dr. Jan Tambayong,(2000),Patofisiologi,Cetakan I,Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Dr.Jan Tambayong, (2001), Anatomi dan Fisiologi untuk keperawatan, Penerbit buku kedokteran, EGC, Jakarta.

Kumar. Cotran. Robbins, (2007), Buku Ajar Patologi, Edisi 7, Penerbit buku kedokteran, EGC, Jakarta.

Mansjoer A, dkk (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi ketiga, Penerbit Media Aeusculapius ; Jakarta.

Price, Sylvia A, (2005), Patofisiologi, Volume 2, Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.













KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas keperawatan KMB 1 dengan judul “EFUSI PLEURA“ yang merupakan salah satu persyaratan akademik dalam pelaksanaan pendidikan di Stikes Prima Bone sudah terselesaikan.
Dalam penyusunan tugas ini kami berusaha semaksimal mungkin namun kemampuan kami sangat terbatas, sehingga penyusunan tugas ini jauh dari sempurna, dan kami menyadari akan segala kekurangan dalam penyusunan tugas ini. Kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan tugas makalah ini dan kesempatan penulis selanjutnya.
Kami mengucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini.Semoga bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.



Watampone, 31 Desember 2015

       Penulis









i
 
 


EFUSI PLEURA





OLEH :
Kelompok 15

*         FASIHAH
*         SYAHRUL






SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) PUANGRIMAGGALATUNG BONE


 
2015/2016

No comments:

Post a Comment

MAKALAHKU

MAKALAH TATANIAGA HASIL PERIKANAN

Tugas Individu MAKALAH TATANIAGA HASIL PERIKANAN Oleh ASRIANI 213095 2006 SEKOLAH TINGGI ILMU P...