MAKALAH
FISIOLOGI
PERKEMBANGAN HEWAN

Disusun Oleh :
Kelompok III (Tiga)
v Risnawati
v A. Kahar
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
MUHAMMADIYAH
BONE
|
2017
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang
telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan.
Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan
baik.
Makalah ini disusun agar pembaca
dapat memperluas ilmu tentang “FISIOLOGI PERKEMBANGAN HEWAN”, yang kami sajikan berdasarkan
pengamatan dari berbagai sumber.
Makalah ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang
datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penyusun juga mengucapkan terima
kasih kepada dosen yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang
bagaimana cara kami menyusun makalah ini.
Semoga makalah ini dapat
memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya.
Terima kasih.
Watampone,
12 April 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I..... PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang..................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................. 2
C.
Tujuan Penulisan................................................................... 2
BAB II... PEMBAHASAN
A.
Tinjauan Umum Pertumbuhan dan Perkembangan.............. 3
B.
Reproduksi pada Hewan...................................................... 4
C.
Beberapa Contoh Reproduksi Seksual Pada Hewan........... 8
D.
Fase
Pertumbuhan Dan Perkembangan Pada Hewan.......... 12
E.
Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Pada
Hewan........ 17
BAB III.. PENUTUP
A.
Kesimpulan........................................................................... 20
B.
Saran..................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan
berkembang. Hewan tumbuh dari sel zigot menjadi embrio, kemudian berkembang
menjadi satu individu yang mempunyai tangan, kaki, kepala dan organ tubuh yang
lain. Pertumbuhan adalah pertambahan jumlah atau ukuran yang bersifat
kuantitatif, karena mudah di amati dan bersifat irreversible atau tidak dapat
kembali seperti semula. Serta dapat dinyatakan dengan angka, grafik, dsb.
Perkembangan adalah semua perubahan dalam menuju kedewasaan yang terjadi pada
makhluk hidup yang sedang tumbuh dan bersifat kualitatif. Pertumbuhan dan
perkembangan merupakan dua proses yang berjalan secara bersamaan (Simultan).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil
interaksi antara faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam adalah faktor yang
terdapat dalam tubuh organisme antara lain gentik yang ada di dalam gen, dan
hormon yang merangsang pertumbuhan. Faktor luar adalah faktor lingkungan
misalnya nutrien, air, cahaya, suhu, kelembapan / pH dan oksigen. Potensi
genetik hanya akan berkembang jika ditunjang oleh lingkungan yang cocok. Dengan
demikian, karakteristik yang ditampilkan oleh hewan di tentukan oleh faktor
genetik dan lingkungan secara bersama-sama.
Reproduksi
adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk
melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Tidak setiap individu mampu
menghasilkan keturunan, tetapi setidaknya reproduksi akan berlangsung pada
sebagian besar individu yang hidup dipermukaan bumi ini. Kegiatan reproduksi
pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung kondisi lingkungan. Ada
yang berlangsung setiap musim atau kondisi tertentu setiap tahun. Untuk dapat
melakukan reproduksi maka harus ada gamet jantan dan betina. Penyatuan gamet
jantan dan betina akan membentuk zigot yang selanjutnya berkembang menjadi
generasi baru (Fujaya 2004: 151).
Reproduksi adalah
suatu proses biologis dimana individu organisme baru
diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan
oleh semua bentuk kehidupan, setiap individu organisme ada sebagai hasil dari
suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi
menjadi dua jenis yaitu seksual dan aseksual. Dalam
reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa
keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi
dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian,
reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu.
Kebanyakan tumbuhan juga
memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual. Reproduksi seksual
membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang
berbeda.Reproduksi manusia normal
adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme yang lebih
kompleks melakukan reproduksi secara seksual, sedangkan organisme yang lebih
sederhana, biasanya satu sel, melakukan reproduksi secara aseksual.
B. Rumusan
Masalah
Dalam makalah ini akan dijelaskan
secara lebih spesifik mengenai Reproduksi hewan baik secara aseksual maupun
secara seksual serta contoh contoh reproduksi hewan yang bereproduksi secara
aseksual maupun seksual.
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah untuk menambah pengetahuan mahasiswa mengenai reproduksi hewan baik
secara seksual maupun secara aseksual dan contoh-contoh hewan yang bereproduksi
aseksual dan seksual.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan
Umum Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah suatu proses
pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak
dapat kembali ke asal). Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau
diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa. Pertumbuhan dan perkembangan
memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Misalnya pada manusia,
dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
melestarikan keturunannya. Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia
memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit.
setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat
sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin (Diah, 2007).
Menurut (Diah, 2007), pertumbuhan
dan perkembangan pada hewan berbeda-beda antara spesies satu dengan spesies
yang lain. Tetapi, pada dasarnya memiliki persamaan tahapan perkembangan, yaitu
sebagai berikut :
1.
Pembelahan SelSetelah terjadi fertilisasi (pembuahan
sel gamet jantan dan sel gamet betina), terbentuklah zigot. Zigot mengalami
pembelahan mitosis secara terus-menerus. Pembelahan ini berlangsung sangat
cepat. Sel-sel yang dihasilkan dari pembelahan disebut morula. Morula
berkembang menjadi bentuk yang berlubang disebut blastula.
2.
Morfogenesis (menjorok) Blastula terus mengalami
pembelahan sel. Selama pembelahan ini terjadi morfogenesis, yaitu proses
perkembangan bentuk berbagai bagian tubuh embrio.
3.
Diferensiasi (menjorok) Blastula terus membelah dan
membentuk gastrula. Dari gastrula terbentuk embrio. Sel-sel embrio berkembang
terus membentuk jaringan, organ, dan sistem organ yang membentuk struktur dan
fungsi khusus yang nantinya difungsikan pada waktu dewasa.
4.
Pertumbuhan (menjorok) Setelah terbentuk organ,
terjadi pertumbuhan makhluk hidup menjadi lebih besar. Perkembangan berjalan
seiring dengan pertumbuhan. Perkembangan adalah proses mencapai kedewasaan.
Perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan, yaitu per-tumbuhan dapat diukur
dengan ukuran tertentu, sedangkan perkembangan tidak dapat diukur dengan suatu
ukuran.
B. Reproduksi
pada Hewan
Reproduksi hewan dapat di bedakan
menjadi dua macam yaitu secara Vegetatif dan Generatif. Perkembangbiakan Vegetatif terjadi
tanpa peleburan Sel
Kelamin Jantan dan Betina. Perkembangbiakan Vegetatif
biasanya terjadi pada hewan tingkat redah atau tidak bertulang bekakang (Avertebrata). Perkembangbiakan generatif umumnya terjadi pada Hewan tingkat tinggi atau hewan
betulang belakang (Vertebrata). Perkembangbiakan tersebut
melibatkan alat kelamin jantan dan alat betina dan ditandai oleh adanya
peristiwa pembuahan (Fertilisasi)..
1.
Perkembangbiakan
Aseksual pada Hewan (Vegetatif)
Perkembangbiakan aseksual pada hewan umumnya terjadi pada
hewan tingkat rendah/Avertebrata. Reproduksi aseksual artinya reproduksi yang
terjadi tanpa didahului dengan peleburan dua sel kelamin yang berbeda jenisnya.
Reproduksi aseksual pada hewan ada lima jenis, yaitu pembelahan biner,
pembelahan ganda, pembentukan tunas, regenerasi, dan partenogenesis.
a.
Pembelahan
biner, terjadi
pada makhluk hidup uniseluler, yaitu dari golongan Monera dan Protista. Pada
pembelahan biner, dari satu individu membelah secara langsung menjadi dua sel
anak. Pembelahan biner terdiri dari lima jenis, yaitu pembelahan ortodoks, melintang,
membujur, miring, dan strobilasi. Pembelahan biner secara ortodoks/umum terjadi
pada Amoeba dan mikroorganisme lain dari golongan Rhizopoda. Pembelahan biner
secara melintang terjadi pada Paramecium. Pembelahan dengan tipe membujur
contohnya pada Euglena. Tipe pembelahan miring terjadi pada Dinoflagellata.
Sedangkan pembelahan biner tipe strobilasi menghasilkan individu baru dari
bagian tubuh induk yang lepas, contohnya pada cacing pita (Taenia sp).

Gambar Perkembangbiakan Amoeba
b.
Pembelahan
ganda, yaitu
pembelahan berulang, sehingga dalam sekali pembelahan dari satu individu dapat
dihasilkan lebih dari dua individu. Contoh hewan yang dapat melakukan
pembelahan ganda adalah Plasmodium.
c.
Pertunasan
atau budding,
yaitu pembentukan tunas kecil yang serupa dengan induk. Tunas ini kemudian
memisahkan diri dan menjadi individu baru. Contohnya pada Hydra, ubur-ubur pada
saat berbentuk polip, dan hewan dari golongan Porifera. Selain bereproduksi
dengan tunas, Porifera juga dapat melakukan reproduksi secara seksual.

Gambar
Perkembangbiakan Hydra dengan Tunas
d.
Fragmentasi, individu baru terbentuk dari
bagian tubuh induk yang terbagi-bagi/terputus baik sengaja atau tidak. Setiap
bagian tumbuh dan berkembang membentuk bagian yang belum ada sehingga
menjadi individu baru yang utuh. Contoh hewan yang melakukan reproduksi
secara fragmentasi adalah cacing tanah, bintang laut, dan Planaria. Fragmentasi
bukan merupakan cara reproduksi yang utama, karena dalam kondisi normal
Planaria bereproduksi secara seksual.

Gambar
Fragmentasi Planaria
e.
Partenogenesis, individu baru terbentuk dari telur
yang tidak dibuahi. Hewan yang mengalami partenogenesis adalah serangga,
misalnya lebah madu.
2.
Perkembangbiakan
seksual pada hewan (Generatif)
Pada reproduksi seksual tidak selalu
terjadi pembuahan, namun kadang-kadang dapat terbentuk individu baru tanpa
adanya pembuahan, sehingga reproduksi secara kawin pada hewan invertebrata
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tanpa pembuahan, yaitu pada
peristiwa partenogenesis, sel telur tanpa dibuahi dapat tumbuh
menjadi individu baru. Misalnya pada lebah jantan dan semut jantan.
b. Dengan pembuahan, dapat dibedakan
atas konjugasi dan anisogami.
1)
Konjugasi,
ini terjadi pada invertebrata yang belum jelas alat reproduksinya misalnya
Paramecium.
2)
Anisogami,
yaitu peleburan dua asel kelamin yang tidak sama besarnya, misalnya peleburan
mikrogamet dan makrogamet pada Plasmodium, dan peleburan sperma dengan ovum di
dalam rahim.
3.
Perkembangbiakan
Seksual pada Hewan Tingkat Tinggi
Perkembangbiakan secara seksual pada
hewan melibatkan alat reproduksi, sel kelamin/gamet jantan dan gamet betina,
serta proses pembuahan atau fertilisasi. Pembuahan pada hewan ada dua jenis,
yaitu pembuahan yang terjadi di dalam tubuh induk betina dan pembuahan yang
terjadi di luar tubuh. Pembuahan di dalam tubuh induk betina disebut
fertilisasi internal. Sedangkan pembuahan di luar tubuh induk betina disebut
fertilisasi eksternal.
Pembuahan eksternal biasanya terjadi
pada hewan yang hidup di dalam air, misalnya katak dan ikan. Jumlah sel telur
dan sperma yang dihasilkan sangat banyak, sehingga dapat memperbesar peluang
terjadinya pembuahan. Pembuahan eksternal dapat dibedakan menjadi dua tipe,
yaitu tipe acak dan tipe sarang. Pada tipe acak, proses pelepasan sel telur dan
sperma di lakukan di sembarang tempat. Sedangkan pada tipe sarang, ada tempat
tertentu untuk melepaskan sperma dan sel telur, sehingga peluang terjadinya
pembuahan lebih besar. Pada fertilisasi internal, pembuahan yang terjadi dalam
tubuh induk betina. Jadi sperma dari induk jantan harus dimasukkan ke dalam
tubuh betina melalui kopulasi.
Alat reproduksi menghasilkan sel
kelamin. Sel kelamin jantan/sperma dihasilkan oleh testis, sedangkan sel
kelamin betina (ovum/sel telur) dihasilkan oleh ovarium (indung telur). Proses
pembentukan sel kelamin jantan dan betina disebut gametogenesis. Proses
pembentukan sel kelamin jantan disebut spermatogenesis, sedangkan proses
pembentukan sel kelamin betina disebut oogenesis.
Setelah terjadi pembuahan atau
fertilisasi, akan terbentuk zigot yang kemudian berkembang menjadi embrio.
Perkembangan dan kelahiran embrio dapat terjadi melalui tiga cara, yaitu
vivipar, ovipar, dan ovovivipar.
a.
Vivipar
(hewan beranak),
yaitu hewan yang embrionya berkembang dan mendapat makanan di dalam uterus
(rahim) induk betina. Contohnya adalah kerbau, sapi, gajah, dan harimau.
b.
Ovipar
(hewan bertelur),
yaitu hewan yang embrionya berkembang di dalam telur. Telur hewan ini
dikeluarkan dari dalam tubuh dan dilindungi oleh cangkang. Embrio memperoleh
makanan dari cadangan makanan yang terdapat di dalam telur.
c.
Ovovivipar
(hewan betelur dan beranak), yaitu hewan yang embrionya berkembang di dalam telur,
tetapi telur tetap berada di dalam tubuh induk betina. Setelah cukup umur,
telur akan pecah di dalam tubuh induk dan anaknya keluar. Contohnya adalah
kadal dan ikan hiu. Anak itik menetas dari telur, itik termasuk hewan ovipar.
C. Beberapa
Contoh Reproduksi Seksual Pada Hewan
Berikut ini beberapa contoh reproduksi seksual pada hewan.
1.
Reproduksi pada Ikan
Pada umumnya ikan bertelur (ovipar)
dan pembuahannya terjadi di luar tubuh induk betinanya. Alat kelamin jantan
terdiri dari sepasang testis berwarna putih. Sperma dialirkan melalui saluran
vas deferens yang bermuara di lubang urogenital. Lubang urogenital merupakan
lubang yang dipakai untuk keluarnya urin dan sperma.


Gambar
a. alat kelamin jantan pada ikan, b. alat kelamin betina pada ikan
Alat
kelamin betina terdiri dari sepasang ovarium. Ovarium menghasilkan sel telur.
Sel telur dikeluarkan melewati oviduk dan kemudian dialirkan ke lubang
urogenital. Setelah ikan betina mengeluarkan sel telur di sembarang tempat atau
di tempat tertentu, maka akan diikuti oleh ikan jantan dengan
mengeluarkan sperma.
2.
Reproduksi pada Katak
Katak termasuk hewan amfibi yang
hidup di darat dan air. Pembuahan katak terjadi secara eksternal yang dilakukan
di air. Katak bersifat ovipar atau bertelur. Alat kelamin jantan terdiri dari
sepasang testis yang berwarna putih kekuningan.

Gambar. a. alat kelamin jantan
katak, b. alat kelamin betina katak
Testis
menghasilkan sperma. Sperma melewati vas efferentia dan menuju kloaka. Kloaka
merupakan tempat keluarnya sperma, saluran urin, dan sisa pembuangan makanan.
Alat kelamin betina terdiri dari sepasang ovarium yang menghasilkan sel telur.
Telur melewati oviduk dan menuju kloaka.
Pada
saat kawin (kopulasi), katak jantan akan naik ke punggung katak betina. Dengan
jarinya, katak jantan menekan katak betina sehingga katak betina mengeluarkan
sel telur ke dalam air. Saat keluarnya telur, katak jantan akan mengeluarkan
spermanya. Terjadilah pembuahan sel telur di dalam air dan akan berkembang
menjadi zigot.
3.
Reproduksi pada Reptilia
Umumnya reptilia bersifat ovipar,
walaupun ada sebagian yang ovovivipar. Pada reptilia jantan, alat kelaminnya
terdiri dari sepasang testis, epididimis dan vas deferens. Memiliki alat
kelamin khusus yang disebut hemipenis dan dikeluarkan melalui kloaka saat
kawin. Sedangkan reptilia betina memiliki alat kelamin terdiri dari sepasang ovarium
dan oviduk. Telur bermuara di oviduk. Pada reptil ovovivipar telur akan menetas
dalam oviduk.

Gambar a. alat kelamin jantan
reptil, b. alat kelamin betina reptil
4.
Reproduksi pada Burung
Burung berkembangbiak dengan cara
bertelur (ovipar). Umumnya telur akan dierami hingga menetas. Embrio di dalam
telur memerlukan suhu tertentu untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Alat
kelamin burung jantan terdiri dari sepasang testis. Sperma yang dihasilkan
testis akan menuju vas deferens dan kloaka. Sedangkan alat kelamin betina pada
burung terdiri dari ovarium kiri dan oviduk.


Gambar a. alat kelamin jantan pada
burung, b. alat kelamin betina pada burung
Saat
kawin, kloaka jantan dan betina saling mendekat sehingga ketika sperma keluar
dari kloaka jantan akan langsung masuk ke kloaka betina sehingga sel telur
dapat dibuahi. Telur burung mempunyai struktur sebagai berikut.:
a.
Cangkang
telur, terbuat
dari zat kapur yang berpori untuk keluar masuknya udara. Di sebelah dalam
cangkang terdapat dua buah membran yang pada salah satu ujungnya tidak saling
melekat, sehingga terbentuk rongga udara.
b.
Albumen
(putih telur),
berupa cairan kental berwarna putih bening yang berfungsi sebagai cadangan
makanan dan melindungi embrio dari guncangan.
c.
Kuning
telur, terdapat
di bagian tengah albumen. Pada kuning telur ini terdapat calon embrio. Agar
kuning telur tetap pada posisinya, maka terdapat kalaza yang berfungsi menjaga
posisi kuning telur.
Pada
saat telur dierami, embrio mulai tumbuh. Kuning telur dan putih telur diserap melalui
pembuluh darah yang terbentuk mengelilingi kuning telur. Bagian-bagian yang
berperan dalam mendukung pertumbuhan embrio adalah sebagai berikut.
a.
Amnion, merupakan cairan ketuban yang
terdapat pada suatu kantung tempat tumbuhnya embrio.
b.
Alantois, merupakan tempat penyimpanan hasil
ekskresi, mengangkut O2 ke dalam embrio dan CO2 keluar dari embrio.
c.
Tali
pusat, yaitu
bagian yang menghubungkan kuning telur dengan alantois.
5.
Reproduksi pada Mamalia
Mamalia berkembang biak dengan cara
melahirkan anak (vivipar). Proses pembuhannya berlangsung di dalam tubuh induk
betina (fertilisasi internal). Setelah dilahirkan, anak hewan mamalia menyusu
kepada induknya. Meskipun demikian, ada beberapa jenis mamalia yang tidak
melahirkan anaknya, tetapi bertelur. Contohnya adalah platipus (Ornithorynchus
anatinus).
Semua hewan Mamalia memiliki alat
reproduksi yang hampir serupa. Untuk mempelajarinya, amatilah alat reproduksi
tikus berikut ini.
|
|

Gambar a. alat kelamin jantan pada tikus,
b. alat kelamin betina pada tikus
Tikus
jantan mempunyai sepasang testis yang berfungsi untuk menghasilkan sperma.
Sperma dikeluarkan melalui saluran sperma yang disebut vas deferens. Untuk
memasukkan sperma ke dalam tubuh hewan betina, digunakan penis.
Tikus
betina mempunyai sepasang ovarium yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur
atau ovum. Sel telur yang telah dilepaskan dari ovarium (ovulasi) keluar
melalui saluran telur dan akhirnya sampai di uterus. Jika sel telur ini dibuahi
oleh sperma, akan terbentuk zigot yang akan tumbuh dan berkembang menjadi
embrio. Tikus mampu mengandung lebih dari satu embrio. Namun tidak semua
Mamalia memiliki kemampuan seperti ini. Setiap embrio memperoleh nutrisi dan
oksigen dari plasenta yang dihubungkan melalui tali pusat. Jika sudah tiba masa
lahirnya, embrio lepas dari uterus dan dikeluarkan melalui vagina.
D. Fase
Pertumbuhan Dan Perkembangan Pada Hewan
Pertumbuhan dan perkembangan pada hewan dapat
dibagi menjadi dua fase, yaitu fase embrionik dan fase pasca embrionik. Fase
embrionik adalah pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari zigot sampai
terbentuknya embrio sebelum lahir atau menetas. Sedangkan fase pasca embrionik
merupakan pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai sejak lahir atau menetas
hingga hewan itu dewasa.
1.
Fase Embrionik
Setelah zigot
terbentuk dari pertemuan antara sperma dan ovum pada proses fertilisasi,
kemudian Zigot selanjutnya mengalami pertumbuhan dan perkembangan melalui
tahap-tahap yaitu pembelahan, gastrulasi, dan organogenesis. .
Pembelahan
(cleavage). Zigot akan mengalami pembelahan secara mitosis, yaitu dari satu sel
menjadi dua sel, dua sel menjadi empat sel, empat sel menjadi delapan sel, dan
seterusnya. Pembelahan sel tersebut berlangsung cepat dan akan menghasilkan
sel-sel anak yang tetap terkumpul menjadi satu kesatuan yang menyerupai buah
anggur yang disebut morula. Dalam pertumbuhan selanjutnya, morula akan menjadi
blastula yang memiliki suatu rongga. Proses pembentukan morula menjadi blastula
disebut blastulasi.
Morula adalah suatu
bentukan sel sperti bola (bulat) akibat pembelahan sel terus menerus.
Keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat. Morulasi yaitu proses
terbentuknya morula.
Blastula adalah
bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. Bentuk blastula
ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang
tidak beraturan. Di dalam blastula terdapat cairan sel yang disebut dengan
Blastosoel. Blastulasi yaitu proses terbentuknya blastula.
Gastrula adalah
bentukan lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya sudah semakin nyata dan
mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta rongga tubuh. Gastrula pada beberapa
hewan tertentu, seperti hewan tingkat rendah dan hewan tingkat tinggi, berbeda
dalam hal jumlah lapisan dinding tubuh embrionya. Triploblastik yaitu hewan
yang mempunyai 3 lapisan dinding tubuh embrio, berupa ektoderm, mesoderm dan
endoderm.
Organogenesis,
merupakan proses pembentukan berbagai organ tubuh yang berkembang dari tiga
lapisan saat proses gastrulasi. Organ yang terbentuk dari ketiga lapisan ini
adalah :
a.
Lapisan
ektoderm, berkembang menjadi rambut, kulit, sistem saraf, dan indra.
b.
Lapisan
mesoderm, berkembang menjadi otot, rangka, alat reproduksi, alat peredaran
darah, dan alat eksresi.
c.
Lapisan
endoderm, berkembang menjadi alat pencernaan dan alat pernapasan.
2. Fase
Pasca Embrio
Pada tahap pasca
embrio, terjadi pertumbuhan dan perkembangan menjadi individu dewasa. individu
dewasa artinya siap menghasilkan keturunan atau bereproduksi. Beberapa hewan
invertebrata mengalami regenerasi atau metamorfosis selama pertumbuhan dan
perkembangannya. Sedangkan hewan vertebrata mengalami pertumbuhan dan perkembangan
dari hewan muda (anak) menjadi hewan dewasa.
a.
Regenerasi
Regenerasi adalah proses perbaikan tubuh yang
luka atau rusak. Proses ini ditentukan oleh set-set batang dalam tubuh hewan
yang belum mengalami diferensiasi. Pada organisme yang berkembang biak secara
aseksual, regenerasi berarti juga sebagai proses reproduksi atau berkembang
biak. Contohnya cacing pipih. Cacing pipih memiliki kemampuan regenerasi yang
sangat tinggi. Apabila tubuhnya dipotong„ setiap potongan akan menjadi individu
baru dan lengkap.
b.
Metamorfosis
Metamorfosis adalah perubahan ukuran, bentuk,
dan bagian-bagian tubuh hewan dari suatu stadium ke stadium berikutnya.
Metamorfosis merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan hewan khususnya
serangga dan amfibi menuju dewasa. Dalam siklus hidupnya, hewan memiliki
struktur dan fungsi tubuh yang berbeda pada setiap stadium. Metamorfosis
dikendalikan oleh hormon. Di bawah pengaruh hormon, ukuran tubuh hewan
bertambah, jaringan terorganisasi, dan bagian-bagian tubuh kembali dibentuk.
1)
Metamorfosis serangga (insekta)
Berdasarkan tidak terjadinya atau terjadinya
tahap metamorfosis yang dialami, serangga dibedakan menjadi kelompok serangga
ametabola, holometabola, dan hemimetabola.
a) Ametabola
Ametabola merupakan organisme yang tidak mengalami proses metamorfosis.
Stadium yang dimiliki adalah stadium telur dan stadium imago (dewasa).
Contohnya kutu buku yang bertelur kemudian berkembang menjadi dewasa tanpa
melakukan metamorfosis.
b) Holometabola
Biolometabola merupakan organisme yang mengalami metamorfosis sempurna.
1 hewan ini memiliki stadium telur, larva (ulat), pupa (kepompong), dan imago
(dewasa). Contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu.
Stadium telurnya dapat kita amati pada daun jeruk nipis. Telur menjadi larva
yang sangat aktif mencari makan dengan cara memakan daun jeruk nipis. Pada
stadium larva terjadi beberapa kali pergantian kulit yang disebut dengan
ekdisis. Setelah itu larva akan berubah menjadi pupa (kepompong). Fase pupa
merupakan fase istirahat. Kemudian, pupa berkembang menjadi kupu-kupu yang
mampu terbang dan berkembang biak kembali untuk menghasilkan telur. Contoh lain
holometabola adalah kumbang, ngengat, semut, dan lebah.
c) Hemimetabola
Hemimetabola merupakan organisme yang mengalami metamorfosis tidak
sempurna. Stadium yang dimiliki oleh hewan ini adalah telur, larva atau nimfa,
semi-imago,dan imago (dewasa). Contoh hewan kelompok ini adalah kumbang.
Stadium Mtr dapat kita amati pada pasir sebagai medium peletakan telur. Setelah
telur menetas, terbentuk stadium larva. Setelah itu akan terbentuk stadium
semi-imago. Stadium ini memiliki bentuk morfologi yang sama dengan kumbang
imago, tetapi belum memiliki kemampuan untuk bereproduksi, karena organ
reproduksinya belum tumbuh sempurna. Setelah itu kumbang memasuki stadium imago
yang mampu bereproduksi atau berkembang biak menghasilkan telur. Contoh lain
hemimetabola adalah metamorfosis belalang, walang sangit, dan lipas.
2)
Metamorfosis katak (amfibi)
Tahap
metamorfosis katak pada umumnya dibagi menjadi 3 stadium, yaitu
premetamorfosis, prometamorfosis, dan metamorfosis klimaks. Selama stadium
premetamorfosis, telur yang telah dibu ahi
tumbuh menjadi berudu (kecebong). Berudu bertambah ukurannya dengan sedikit
perubahan bentuk tubuh. pada stadium prometamorfosis, kaki bagian belakang
muncul dan pertumbuhan tubuh terjadi secara lambat. Selama metamorfosis
klimaks, kaki bagian depan muncul dan ekor mulai menghilang.
E. Faktor
yang Memengaruhi Pertumbuhan Pada Hewan
Pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup merupakan hasil
interaksi antara faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dan
faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup
adalah gen, nutrisi, hormon, dan lingkungan (Isnaeni, 2006).
1.
Gen
Gen adalah
faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam sel makhluk hidup. Gen
berpengaruh pada setiap struktur makhluk hidup dan juga perkembangannya,
walaupun gen bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhinya. Artinya, sifat-sifat
yang tampak pada makhluk hidup seperti bentuk tubuh, tinggi tubuh, warna mata,
warna bulu pada hewan, warna bunga, penambahan ukuran, dan sebagainya
dipengaruhi oleh gen yang dimilikinya. Masing-masing jenis (spesies), bahkan
masing-masing individu memiliki gen untuk sifat tertentu. Demikian pula pada
hewan ternak yang memiliki gen unggul, misalnya pertumbuhannya cepat dan dengan
memberikan makanan yang cukup maka akan menunjukkan pertumbuhan dan
perkembangan yang baik pula. Sebaliknya, jika hewan ternak tersebut tidak
memiliki gen unggul dengan pertumbuhan yang cepat, meskipun didukung dengan
pemberian makanan yang cukup maka pertumbuhan dan perkembangannya tidak sebaik
bila hewan tersebut memiliki gen unggul (Isnaeni, 2006).
2.
Nutrisi
Nutrisi /
makanan berperan pentingdalam pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.
Fungsi nutrisi di antaranya adalah sebagai bahan pembangun tubuh makhluk hidup.
Sampai batas usia tertentu manusia akan mengalami pertumbuhan, yaitu bertambah
tinggi dan besar. Hal ini dapat terjadi karena setiap hari manusia makan
makanan yang cukup bergizi. Demikian pula hewan, pada batas periode tertentu
juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan karena hewan tersebut makan setiap
hari. Nutrisi bagi sebagian besar hewan dan manusia dapat berupa protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Protein merupakan bahan pembangun
sel-sel tubuh. Oleh karena itu dalam masa pertumbuhan harus mendapatkan protein
yang cukup (Isnaeni, 2006).
3.
Hormon
Hormon
merupakan senyawa organik (zat kimia) pada manusia dan sebagian hewan. Hormon
dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin merupakan kelenjar buntu,
artinya kelenjar itu tidak memiliki saluran. Hasil sekresi kelenjar endokrin
(hormon) langsung masuk ke pembuluh darah. Hormon diedarkan ke seluruh tubuh
oleh darah. Hormon mempengaruhi reproduksi, metabolisme, serta pertumbuhan dan
perkembangan pada manusia dan sebagian hewan. Pada hewan tingkat tinggi
(vertebrata) misalnya katak, metamorfosis berudu menjadi katak dewasa dipengaruhi
oleh hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Hal ini menunjukkan
bahwa pada katak, hormon tiroksin mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.
Pada hewan tingkat rendah (invertebrata) misalnya Hydra memiliki zat kimia yang
mirip hormon (neuropeptida). Zat kimia ini merangsang terjadinya pertumbuhan
dan regenerasi (Isnaeni, 2006).
4.
Lingkungan
Pertumbuhan
dan perkembangan makhluk hidup terutama tumbuhan sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Faktor lingkungan merupakan faktor eksternal. Faktor lingkungan
berperan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan terutama adalah suhu, udara,
cahaya, dan kelembapan (Isnaeni, 2006).
Faktor-faktor
lingkungan tersebut di atas yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hewan
bersifat kompleks. Faktor-faktor tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi
merupakan satu kesatuan yang saling berinteraksi dalam mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan organisme (Isnaeni, 2006).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Pertumbuhan
dan perkembangan pada hewan dapat dibagi menjadi dua fase, yaitu fase embrionik
dan fase pasca embrionik. Fase embrionik adalah pertumbuhan dan perkembangan
yang dimulai dari zigot sampai terbentuknya embrio sebelum lahir atau menetas.
Sedangkan fase pasca embrionik merupakan pertumbuhan dan perkembangan yang
dimulai sejak lahir atau menetas hingga hewan itu dewasa.
2.
Morula
adalah suatu bentukan sel sperti bola (bulat) akibat pembelahan sel terus
menerus. Keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat. Morulasi yaitu
proses terbentuknya morula.
3.
Blastula
adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. Bentuk
blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan
yang tidak beraturan.
4.
Gastrula
adalah bentukan lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya sudah semakin
nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta rongga tubuh.
5.
Organogenesis,
merupakan proses pembentukan berbagai organ tubuh yang berkembang dari tiga
lapisan saat proses gastrulasi.
6.
Regenerasi
adalah proses perbaikan tubuh yang luka atau rusak. Proses ini ditentukan oleh
set-set batang dalam tubuh hewan yang belum mengalami diferensiasi.
B. Saran
1.
Memperbanyak
buku referensi pertumbuhan dan perkembangan hewan.
2.
Mempelajari
tentang pertumbuhan dan perkembangan hewan melalui kehidupan sehari-hari.
3.
Menjaga
kelestarian budaya agar tidak punah.
DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah. 2007. BIOLOGI 1 SMA dan MA untuk Kelas XII. Esis, Jakarta
Evie
Azhfizar Lucia, Mengenal Makhluk
Hidup, Jakarta:Group Grafiti,2007.
Edy
Yuwono dan Purnama Sukardi, Fisiologi
Hewan Air Edisi Pertama, Jakarta: CV Sagung Seto,2001.
Isnaeni,
Wiwi. 2006.
Fisiologi
Hewan.Yogyakarta : Kanisius.
Kadaryanto et al. 2006. Biologi 2. Jakarta: Yudhistira.
Neil
A. Campbell, Jane B.Reece dan Laurence
G. Mitchell, Biologi Edisi Kelima
Jilid 3 Jakarta:Erlangga,2004.
Saktiyono. 2004.Sains
: Biologi SMP 3. Jakarta: Yudhistira.
Tim Biologi SMU.1997. Biologi 2. Jakarta:
Galaxy Puspa Mega.
Tim IPA SMP/MTs. 2007.Ilmu Pengetahuan Alam 3. Jakarta: Galaxy Puspa Mega.
Tracy I. Storer & Robert L. Usinger, Dasar-Dasar Zologi, (Tangerang
Selatan:Binapura Aksara Publisher.
No comments:
Post a Comment